FOR DENTAL PATIENT

Gentle and Caring Dentist

 

Aku punya masalah gigi berlubang yang menurut dokter gigi sebelumnya itu lumayan ribet untuk dicabut berdasarkan hasil rontgen, sehingga aku benar-benar takut. Ditambah lagi gigi berlubang ini sangat sakit ketika ada benda asing masuk dan gak kebayang deh jadinya seperti apa kalau jarum bius menusuk-nusuk lubang gigiku. Aduuh bayanginnya saja sudah takut. Saking takutnya untuk cabut gigi yang satu ini, aku sampai pending entah beberapa bulan sampai akhirnya sakit gigiku kumat lagi.
Dari situ, aku perang batin… “Yaah! aku harus cabut gigi yang satu ini. Haruss!”

Tapi mau cabut di mana?

Dokter gigi yang mana?

Meskipun aku sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter gigi tetap tidak bisa membuat ketakutanku hilang untuk cabut gigi ini. Oh ya… gigi yang aku ceritakan adalah gigi geraham paling belakang. Komplikasi yang disebutkan banyak oleh beberapa dokter gigi seperti di antaranya akar gigi gerahamku mendekati dengan gigi bungsu yang belum muncul ke permukaan gusi, ditakutkan akar gigi yang akan dicabut patah dan harus operasi gigi bungsu. Gilaa! Aku pikir.. ribet sekalii sihh..

Sampai akhirnya, aku putuskan untuk googling dokter gigi yang kurasa nyaman untuk mencabut gigiku dan ketemu beberapa review tentang Drg. Mia Gracia. Singkat cerita aku kemudian mencoba membuat janji dengan Drg. Mia.

Dan akhirnya ketemu juga dengan Dokter Mia. Setelah cerita-cerita, Dokter Mia meyakinkan aku agar tidak usah takut.
Saat eksekusipun tiba, aku deg-deg an, tangan dingin dan kakipun dingin.
Lalu pencabutanpun berlangsung dan dengan tenaga tapi softly and then Dokter Mia did it! Seperti biasanya, Dokter Mia memberitahukan apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan pasca pencabutan gigi.

Dokter Mia memang the best menurutku. Tidak membuat pasiennya gusar tapi justru malah menenangkan. Dan aku merasa nyaman berkomunikasi dengan Dokter Mia, dia merespon ketakutanku dengan cara yang nyaman. Keesokan harinya luka di gigiku tidak terasa sakit sama sekali. Dokter Mia benar-benar dokter yang sangat berdedikasi tinggi dan sangat berpengalaman..

Kesimpulan dariku sih cabut gigi jangan pernah ditunda jika memang sudah seharusnya dicabut. Carilah dokter gigi yang bisa membuatmu nyaman dan tidak membuatmu gusar. Cabut gigi tidak seseram yang kamu bayangkan kok.

Thank you Cicii Miaa..

Desy, Jakarta

I would like to share my experience with Dr. Mia, I had my teeth cleaned and a several fillings repaired. The level of professionalism was beyond reproach. The equipment they use is up to date and clean. I have never felt more at ease and comfortable in a dentist chair. The dentist (Dr. Mia) spoke fluent English and was incredibly clear with her communication on every single thing she did, because I am an American living in Indonesia this was reassuring for me. There was no pain or discomfort in any way. No poking or uncomfortable prodding in my mouth. The buildup of tartar on the back of my lower teeth had got really bad. Within 30 minutes she had given me this glowing smile again.

I have been In Indonesia for years seeing dentists and never getting my teeth cleaned properly. Dr. Mia explained to me that unless the teeth are properly cleaned it’s hard to begin to fix all the other issues. The build up of tartar will affect the overall dental hygiene and keep causing more problems. She explained to me in detail every action she took and clearly outlined effective teeth cleaning procedures not only me but my family as well explaining how to keep our teeth and gums in good order. My filling was done in a matter of 10/15 minutes. With no pain. She is a very skilled professional with a kind and gentle touch. It was an incredible experience and one that has given me enormous trust in choosing the right dentist to look after something as important as my family’s teeth. The value for money is just wonderful as well.

Dr. Mia’s Dental Clinic is one of the best dentists I have ever had the pleasure of visiting in my life. While my wife waited, she offered a free consultation and offered some advice on a long going issue she had. My wife and I will both feel very lucky to have found a wonderful dentist like Dr. Mia. And a Big thanks’ to Dr. Mia and her team for making the experience so pleasant and rewarding.

Moigu Standing Bear, Jakarta

I’ve been a patient of drg. Mia since 2008, I was 15. Then, I had my own reasons for my hatred (and animosity) toward holders of professional degrees in dentistry – relicts from past childhood experiences. Our journey began with my outrageously ridiculous set of teeth.. drg. Mia was truly something else. Now let me tell you, dear readers, why she is the only dentist whose phone number exists on my smartphone:

She provides an excellent patient-centered care. She understands human beings and their nature very well, therefore making her proficient in responding to the patient’s needs. She would gladly address our concerns, cheerfully explaining the dental procedures and terms that laymen do not understand. She is also truthful in her diagnoses. She is persistent: she will not give up even if her patient has.

Being a perfectionist myself, my favorite quality of drg. Mia, skill-wise, is her meticulousness. She is very thorough and precise when she tends to me: be it scaling, tooth extraction, wisdom tooth extraction, dental restoration, or root canal (this one was done to my late father).

However, what sets her apart from the rest, is that she knows how to make you feel comfortable in the absolutely dreadful ‘Dental Chair’. She will, in her best effort, open your mind and change your perspective in regard of receiving dental treatments. She empathizes! She understands your fears and helps you get rid of them. I will always go to her for my dental care, and that is the bottom line.

Thank you, Doctor, for helping me in overcoming my fear and hatred of dental professionals.

If you do not believe me, go and visit her yourself.

Stevanus Pangestu, Jakarta

“Dokter” adalah momok yang menakutkan bagi anak saya, Rai yang kini berusia 7 tahun. Butuh perjuangan untuk bisa mengajak Rai ke dokter, karena dia akan menangis sejadi-jadinya dan menolak, sampai saya merasa putus asa, dan akhirnya ‘mengajak Rai ke dokter’ juga menjadi momok yang menakutkan buat saya.
Sampai akhirnya saya bertemu Drg. Mia Gracia…
Awalnya, saya adalah pasien Drg. Mia. Pada suatu visit, beliau bercerita bagaimana beliau menangani seorang pasien anak yang takut ke dokter gigi.
Dari situ saya menemukan titik cerah untuk menangani ketakutan anak saya akan dokter.
Prosesnya sangat menarik.
Tahap awal, dari saran Drg. Mia, Rai saya ajak untuk menemani saya ke Drg. Mia. Paling tidak, dia melakukan perkenalan dengan Dokter, suasana tempat prakteknya, kegiatan apa saja di tempat praktek, dan alat-alat apa saja yang digunakan dokter gigi.
Tahap awal itu ada beberapa kali saya lakukan. Dan selama tahapan itu, kebetulan Rai tidak ada masalah gigi, jadi dia (akhirnya) rela saja untuk ikut saya ke dokter gigi, walaupun dia menolak di masa-masa awal saya ajak.
Sampai akhirnya salah satu gigi geraham Rai ada lubang. Nah, mulailah proses yang sebenarnya..
Meskipun masih ada penolakan keras dan diwarnai tangisan, Rai akhirnya mau diajak untuk diperiksa lubang giginya. Saya yakin, hal ini merupakan efek positif dari beberapa kali Rai ikut serta saat saya berobat ke Drg. Mia.
Di sini saya melihat kesabaran Drg. Mia yang luar biasa. Bagaimana beliau bisa membantu anak saya memahami ketakutannya sendiri. Dengan teknik dan pendekatan yang dilakukan oleh Drg. Mia, Rai yg awalnya nangis keras, kemudian melunak, dan yang sangat luar biasa, dia mau duduk di kursi periksa. Bagi saya, cara ini sangat luar biasa !
Dan yang sangat luar biasa, sekarang Rai malah mengajak saya untuk ke dokter gigi, karena dia merasa ada giginya yang berlubang. Walau masih ada sedikit kecemasan pada saat masuk ruang praktek dokter gigi, paling tidak ini adalah kemajuan yang sangat perlu diacungi jempol !
Salut untuk Drg. Mia dan terima kasih banyak atas pembelajaran bagaimana menangani ketakutan anak ke dokter, dengan pendekatan psikologis.
Dari proses ini, saya akhirnya tahu bahwa ketakutan itu bukan dihindari, tapi harus dihadapi. Memahami ketakutan anak saya membuat saya memahami pula cara berhadapan dengan persepsi dan cara berpikir Rai, bagaimana memperkenalkan realita dan konsekuensi atas pilihan-pilihannya, serta mendidik anak untuk menghadapi ketakutan itu.

Devi, Jakarta

Saya punya trauma pergi ke dokter gigi semenjak kecil. Saya pernah jatuh dari tangga yang menyebabkan gigi saya patah. Kejadian tersebut mengakibatkan saya mau tidak mau harus mencabut gigi karena, menurut dokter, gigi saya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Saat itu pencabutan gigi masih menggunakan suntik jarum berukuran normal/ panjang. Sebelum disuntik, saya disemprot cairan yang dingin. Walaupun sudah diberi cairan yang dingin, rasa suntikan tersebut masih terasa jelas, sakit yang luar biasa sekali. Bahkan rasa sakitnya bukan hanya sekali saja, ketika dokter berpindah tempat, sakitnya pun terulang.
Dengan kondisi terpaksa, tepatnya tidak ada pilihan lagi, hari itu pun dilewati dengan super menyeramkan.
Beberapa bulan kemudian, saya mendapat undangan pesta ulang tahun dari seorang teman sekolah saya. Saya, sebagaimana layaknya anak remaja, pun sangat excited untuk menghadiri acara itu. Namun pengalaman buruk kembali terulang, ketika saya selesai mandi dan hendak jalan masuk ke kamar, saya terpeleset jatuh ke lantai. Gigi saya menabrak lantai dan patah lagi. Untuk kedua kalinya saya harus menghadapi pengalaman pahit itu.

Dengan harapan supaya pencabutan gigi kali ini tidak sesakit kemarin, maka saya berpindah ke dokter gigi yang lain, di mana biaya praktiknya terkenal lebih mahal. Tetapi ternyata sama saja, bahkan lebih parah karena proses pencabutannya lama sekali. Dokter yang menangani saya juga kasar sekali, sehingga secara tidak langsung membuat saya merasa tidak aman. Cara beliau menarik gigi sayalah yang membuat saya merasa demikian. Ia menarik gigi saya kencang sekali dan tanpa ba-bi-bu alias tanpa basa basi. Padahal dari awal saya sudah mengutarakan ketakutan saya, dengan harapan beliau bisa membuat saya nyaman. Namun ternyata malah membuat saya sakit dan kecewa. Bahkan gigi saya mengalami pembengkakan selama 2 hari.
Semenjak itulah saya merasa enggan pergi ke dokter gigi. Ada dua gigi saya yang sudah hancur pun belum dicabut dikarenakan rasa takut tersebut. Tahun demi tahun, saya biarkan begitu saja dan untungnya tidak menimbulkan sakit. Namun sebagai wanita dewasa yang sangat peduli terhadap kecantikan, maka saya jadi semakin concern akan pentingnya kesehatan gigi. Terus terang, saya merasa iri melihat gigi orang lain yang bagus. Muncullah motivasi untuk membereskan dua gigi yang sudah lama bermasalah ini. Saya pun mencari tahu ke kolega-kolega saya di kantor, siapa dokter yang terpercaya untuk mencabut gigi dan bagaimana pengalaman mereka. Banyak sekali daftar yang saya dapat, termasuk pengalaman yang mengatakan, “Nggak sakit kok,” tapi ada juga yang berbalikan, “Gila, sakit banget, ampe bengkak gigi gue waktu itu,” dan seterusnya.

Akhirnya, saya menuruti usul dari seorang teman untuk berkunjung ke drg. Mia Gracia, CCH. Saya pun menghubungi drg. Mia dan membuat perjanjian dalam waktu dekat. Singkat cerita, salah satu dari dua gigi yang bermasalah pun dicabut. Proses pencabutan terasa sedikit sakit, saya merasakan sedikit rasa tidak nyaman ketika disuntik. Tapi di atas semuanya, rasa sakit itu tidak separah seperti pengalaman saya sebelumnya. Jadi bisa dibilang, itu masih baik-baik saja. Awalnya, sebelum gigi saya dicabut, saya pikir saya akan susah makan atau bengkak karena lubang gigi yang besar dan dijahit. Namun, hasilnya ternyata di luar dugaan saya. Setelah gigi saya dicabut, malam harinya saya makan bubur, dan tentu saja saya makan banyak sekali cakwe, menu favorit saya.
Lebih lucunya lagi, keesokan harinya saya makan keripik kentang. Sebelum makan, saya bertanya pada pacar saya, “Boleh ngga ya makan ini? Lubangnya gede deh. Aduh, tapi gue lagi happy nih, pengen makan.” Pertanyaan yang cukup konyol, hahaha. Padahal saya sudah membeli 10 bungkus roti bluder untuk berjaga-jaga bila setelah cabut gigi saya mengalami susah makan. Tapi fakta berkata lain, saya bahkan bisa langsung makan martabak dan lain-lain padahal gusinya agak bengkak. Tak apa-apa, masih oke, kata saya dalam hati. Pacar saya yang menemani saya selama proses ini, sampai bingung dan bertanya-tanya dengan reaksi saya yang berubah drastis.

Harus saya akui, tiga hari sebelum cabut gigi dilakukan, saya susah tidur, terus terpikir sampai terbawa mimpi, tak berselera makan, mood saya pun cenderung buruk.
Saya akhirnya memberanikan diri mencabutkan gigi pada drg. Mia, karena ia sangat sabar dalam menangani pasiennya dan mampu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Selain trauma gigi, saya juga takut melihat darah. Trauma itu pun saya sampaikan kepadanya. Oleh karena itu juga, saya sangat berterima kasih ketika gigi saya selesai dicabut, semuanya sudah bersih. Saya sama sekali tidak melihat darah setetes pun, ditambah lagi, drg. Mia membantu saya untuk tenang dan tidak merasakan sakit.
Sekarang saya malah segera ingin mencabutkan satu gigi yang lainnya, kemudian melakukan perawatan gigi secara rutin. Saya merasa bahwa pencabutan gigi tidak seseram apa yang saya bayangkan. Sakitnya sudah tidak seperti zaman dulu lagi dan tidak akan menyebabkan bengkak yang parah apabila ditangani secara benar. Bagi orang yang punya pengalaman kurang lebih sama dengan saya (takut ke dokter gigi), menurut saya asal kita ke dokter gigi yang mau mengerti akan trauma kita, everything will be fine.

Satu hal lagi, mungkin karena drg. Mia adalah dokter hipnoterapi maka beliau mampu meyakinkan saya untuk tidak takut. Dulu saking takutnya, saya bahkan sempat kepikiran ingin dihipnosis saja biar tidak takut lagi. Di samping itu, karakter seorang dokter juga berpengaruh dalam keberhasilan perawatan gigi pasien. Apabila dokter terkesan kasar, tidak ramah, terkesan buru-buru, akan membuat kita menjadi semakin panik. Apalagi jika ia tidak memberikan kita informasi/penjelasan, dan langsung mengeksekusi gigi kita tanpa komunikasi yang baik.
Sekian cerita saya, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Santi, Jakarta

Saya sangat terkesan dengan kepedulian Dokter Mia khususnya sebelum melakukan tindakan (pencabutan gigi) pada saudara saya yang mengalami stroke, Selvina, meminta saya untuk cross check dengan dokter syaraf yang menangani Selvina mengenai kondisi Selvina serta memberikan penjelasan yang detail dan cukup jelas bagi kami yang awam akan tindakan- tindakan dokter gigi.

Dan juga saya merasakan, bahwa tujuan dokter untuk menjadi dokter gigi tidak hanya komersialisme semata, tidak memandang Selvi sebagai obyek semata, dan mempertimbangkan perasaan dan kesiapan mental Selvi sebelum-sedang-dan- sesudah dilakukan tindakan gigi, serta kepada Selvi tidak dipaksakan untuk melakukan tindakan-tindakan perawatan gigi lain yang belum perlu dilakukan dalam waktu dekat.

Demikian kesan yang bisa saya sampaikan. Terima kasih saya ucapkan atas perhatian yang Dokter Mia berikan kepada adik saya.

SHARING KASUS DENTAL FEAR

Kesan pertama saya tentang dokter gigi adalah: menyeramkan, karena dulu sewaktu kecil, gigi saya berlubang semua, sehingga memaksa saya untuk pergi ke dokter gigi. Tapi sesampainya di klinik gigi, suara bornya terdengar sangat mengerikan, ditambah dengan bau yang dihasilkan dari bornya itu, benar- benar menyempurnakan kesan yang buruk tentang dokter gigi.

Saya mengenal drg. Mia Gracia, CCH melalui teman saya. Telah dua kali gigi saya dirawat oleh beliau, yang pertama saat operasi gigi, dan yang kedua pencabutan gigi (keduanya gigi geraham belakang).
Ini pertama kalinya saya menghubungi dokter gigi karena gigi geraham belakang saya tumbuh miring sehingga mendorong gigi-gigi depan saya maju. Akhirnya setelah menelepon drg. Mia, saya datang untuk mendapat pemeriksaan. Tapi saat itu kesan saya tentang dokter gigi tetaplah menyeramkan.
Sampai saat saya datang bertemu drg. Mia untuk pertama kalinya. Kesan saya terhadapnya adalah baik, sabar, muda (sempat terbersit dalam pikiran saya: dokter muda biasanya belum berpengalaman nih, gawat!). Tapi sudah tercebur ya apa boleh buat, akhirnya saya berkonsultasi dengan beliau.
Ruang praktiknya bersih, terang, bahkan ada musik yang membuat relaks, dan yang paling penting, tidak ada bau “khas” ruangan dokter gigi.

Sampai tiba saatnya waktu operasi, saya sudah deg-degan sejak seminggu sebelumnya, imajinasi saya sudah liar, berpikir bahwa pasti akan terasa sakit saat mendapat penanganan, plus bakal dengar suara-suara alat seperti dulu saat masih kecil. Sudah terbayang pula di kepala saya bahwa penderitaan pasca-operasi pasti akan terasa sakit (banyak orang bilang bahwa setelah operasi, kita tak akan bisa makan, tak bisa ngomong, tak bisa ketawa kencang-kencang, tak bisa tidur karena sakit, gusi bengkak sehingga muka pun ikut-ikutan bengkak, dan ada juga yang berkata bahwa setelah operasi gigi seseorang bisa kurus… kalau yang ini sih saya senang hehehe), dan masih banyak lagi omongan orang yang bikin pikiran jadi tak keruan.
Akhirnya tibalah saatnya operasi….
Ternyata, operasi gigi itu tidak semengerikan seperti yang saya pikirkan, semua berjalan lancar, tiada rasa sakit.

Kunjungan kedua saya ke dokter gigi adalah untuk keperluan cabut gigi. Awalnya saya pikir hal ini juga sangat mengerikan dan akan berlangsung lama. Tapi ternyata sebaliknya. Penanganan berlangsung sangat cepat dan tidak sakit, Really amazing! Dua hari sejak masa pencabutan gigi telah berlalu, dan saya seolah lupa bahwa gigi saya sudah dicabut.

Sejak saya mengenal drg. Mia, saya merasa tidak takut lagi untuk pergi ke dokter gigi, malahan saya sudah semangat untuk kondisi kesehatan gigi saya dan heboh bertanya-tanya pada drg. Mia tentang bagaimana supaya gigi sehat, cara mengontrol gigi, cara menghilangkan plak dan karang gigi, dan pengetahuan kesehatan gigi lainnya. (^o^) Terima kasih drg. Mia…

Novylia Syariyanto, Jakarta

Dear Cici Dokter,
 Thank you so much for your patience on our first session.
I remember I was terrified, like I always did everytime I visit a dentist.
I want to inform you, that it has been almost 10 years since I go to see a dentist.
It is caused by a traumatizing experience with an old male dentist when I was about 8 years old.
When I cried, he yelled at me, and smacked my hand a bit. Since then I was so scared of dentist.
Until my dear friend Bede, brought me to you, he forced me cause I have lots of problem with my teeth. And I’d rather just hold the pain for years instead seeing a dentist.
I remembered very well our first session I was petrified, and squeezed my own fist so hard. And I hold my breath the first 10 minutes.

But I don’t know, there’s something about you that soothed me. Perhaps your casual approach, perhaps your room that has no ‘dentist’ smell. And honestly speaking, you don’t look like a dentist (in a good way).
Not to mention your amazing work with all the pain, plaques, my teeth become so clean.
Even after a year, when I went to meet you again, 3 days ago. You said it is still clean… after a year.
Most of all, I want to thank you for making me care about my teeth, my smiles.
Brings me more confident. And I’m not afraid of dentist anymore. But I’m not ready to meet another dentist yet. For now, just you.
Yes… you are stuck with me. Haha….

Julius Firdaus, Sydney

Pertama kali ke dokter gigi, aku merasa sedikit takut. (Sekarang) Aku senang ke dokter gigi karena aku melihat banyak alat yang keren, ajaib dan menarik, seperti lampu berwarna biru, kursi yang dapat bergerak, bunyi alat yang keren, dan air minum yang dapat isi sendiri.

Aku jadi tidak takut lagi seperti yang (dulu) aku bayangkan, gigi akan dicongkel dengan alat yang menyeramkan seperti di dalam game di ipadku.
Aku senang karena dokternya baik, karena mau menjelaskan pertanyaanku tentang alat yang aku suka.

Nicholas Andersen, Jakarta

Saya sebenarnya tidak pernah merasa takut ke dokter gigi, hanya saja kalau saya datang berobat ke drg. Mia Gracia, saya merasa ‘ndak keroso’ kalau giginya sedang dikerjakan, lha kok tau-tau sudah selesai hehe…

Evy S.W. Tjahyono, Jakarta

Sebelum datang ke drg. Mia Gracia, saya tanya-tanya ke ponakan saya yang sedang dirawat giginya, dan ponakan saya bilang dokternya baik dan enak diajak berkomunikasi. Saya paling takut kalau dokternya galak, tapi ternyata tidak, dan saat cabut gigi pun saya terasa nyaman. Sempat saya panik karena darahnya masih keluar sampai keesokan harinya, tapi dengan sabar drg. Mia memberi petunjuk melalui telpon supaya saya nggak panik sampai akhirnya darahnya berhenti juga.

Begitupun saat tiga gigi terakhir rahang atas saya harus dicabut karena sudah tak dapat dipertahankan, saya merasa sedih sekali. Hari demi hari saya sedih memikirkan gigi rahang atas saya yang harus dicabut, hingga akhirnya saya curhat deh ke drg. Mia. Saat itu terasa sekali dukungan drg. Mia hingga akhirnya saya siap menghadapi pencabutan gigi-gigi tersebut dengan nyaman.
Dan enaknya lagi, ke drg. Mia nggak usah bahwa uang… Tinggal gesek… Haha…

Natalia Logito, Jakarta

Sebenarnya saya nggak pernah takut ke dokter gigi, hanya saja saya sempat parno waktu gigi saya merenggang dan harus dilakukan pemasangan alat, di sisi lain orang-orang sekitar saya bilang pakai alat tersebut pasti sakit.

Waktu datang ke drg. Mia Gracia, dengan segala kelembutan dan prompt action dari beliau, saya jadi menyesal kenapa nggak dari dulu cek gigi saya. Saat ini saya rutin melakukan pengecekan gigi geligi berkala dan memetik nikmatnya punya gigi dan gusi yang sehat dan baik.

Ameilia, Jakarta

Sebelumnya saya sempat beberapa kali mau datang ke drg. Mia Gracia yang saat itu menangani gigi suami saya, tapi alhasil nggak jadi melulu karena takutnya setengah mati. Suami saya sudah berupaya meyakinkan saya bawa kerjaannya drg. Mia bagus dan nggak terasa sakit. Walaupun begitu, saya masih belum percaya juga sampai akhirnya keburu gigi saya sakit.

Dan memang setelah datang ke drg. Mia, pengerja- annya baik, enggak seperti yang saya bayangkan. Be- liau juga sangat informatif, menjelaskan kondisi gigi saya dan alternatif perawatannya beserta plus minusnya. Yang paling penting, kalau lagi emergency sakit dirumah, beliau selalu mau membantu menginfokan bagaimana per- tolongan pertama yang harus dilakukan.
Nah karena saya puas, jadinya saya rutin cek deh…

Metta, Jakarta

Saya memimpikan memiliki gigi yg sehat dan rapi. Oleh sebab itu saya mempercayakan drg. Mia Gracia untuk menanganinya. Dan drg. Mia telah mewujudkan mimpi saya dengan keahlian dan perhatian nya. Semoga makin banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh drg. Mia.
Terima Kasih Dok 🙂

Sari Maya, Jakarta

Ada sebuah ungkapan yang cukup populer.
 Tidak serius, hanya dalam konteks lucu-lucuan saja, yaitu:
“Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi”
Mungkin yang membuat ungkapan itu jarang sakit gigi.
Tapi untuk orang yang kerap bermasalah dengan gigi seperti saya, sakit gigi itu membuat kita tak berdaya. Bukan hanya sakit, tak enak makan, tapi mood jadi berantakan.
Anehnya, orang enggan ke dokter gigi dan mencoba menggunakan pain killer. Saya termasuk satu di antaranya. Belum ke dokter gigi, sudah terbayang suara bor yang tidak menyenangkan, nyeri, harus buka mulut lama dan banyak peralatan kecil-kecil yang bergonta-ganti masuk ke mulut kita. Belum lagi kalau harus dirawat saraf giginya, atau harus disuntik. Semakin enggan saja menemui dokter gigi. Dari beberapa pengalaman harus berbaring di kursi perawatan gigi dan menahan sakit, saya memilih hanya ke dokter gigi kalau sakitnya benar-benar tak tertahankan. Sampai suatu hari, gigi saya sakit luar biasa, padahal tinggal hitungan hari saya harus pergi ke luar negeri untuk beberapa lama. Repotnya, saya tidak tahu gigi mana yang sakit karena memang terlalu banyak gigi yang bermasalah.
Saya panik, menemui dokter gigi dan pasrah dengan segala kesakitan yang saya hadapi. Di luar dugaan, dokter yang saya temui membesarkan hati saya, meyakinkan bahwa sebelum saya pergi, dia akan berusaha memastikan bahwa saya bisa pergi tenang tanpa beban sakit gigi.
Dokter ini, Mia Gracia namanya, bekerja tekun, sepenuh hati, menemukan 2 gigi yang jadi penyebab sakit, membongkar crown gigi lama dengan sabar dan memastikan tambalan temporer-nya bekerja dengan baik.
Tak hanya itu, sebelum pergi, gigi saya dibersihkan, dirawat, diberi obat dan dimonitor perkembangannya.
Komunikasi antara dokter dan pasien, sangat membantu. Selama saya di perjalanan, tidak ada masalah gigi. Kembali ke Jakarta, membuat saya percaya diri untuk mulai merawat gigi. Rasa enggan dan takut sakit, pelan-pelan hilang. Saya mulai memahami kondisi gigi sendiri setelah berkomunikasi dengan dokter Mia, sampai saya merasakan, dengan gigi yang sehat, hidup menjadi nyaman.
Saat ini, saya masuk tahapan bukan hanya ke dokter gigi karena sakit, tapi karena benar-benar ingin memastikan, gigi saya sehat.

Endah Saptorini, Jakarta

Mengunjungi dokter gigi merupakan salah satu kegiatan yang sebisa mungkin saya hindari, karena menurut saya teramat mengerikan. Apalagi kunjungan terakhir saya menyangkut pembongkaran crown gigi. Setelah menabahkan diri sekuat mungkin, saya berangkat ke drg. Mia.

Pembongkaran crown berhasil saya lalui dan anehnya tidak meninggalkan rasa trauma sama sekali, dan setelahnya dengan sigap saya datang kembali tanpa ragu dan tanpa menunda- nunda waktu untuk menuntaskan proses pengobatan gigi saya.

Terima kasih banyak Dokter Mia! Pengobatan gigi sepertinya bukan lagi ada di daftar kegiatan mengerikan saya…

Joseph Kristanto Pantioso, Jakarta

Saya direferensikan ke drg Mia oleh guru musik saya, untuk masalah saya yang ingin mencabut gigi geraham atas, bungsu dan mahkotanya tinggal setengah. Ngeri aja.

Alhamdulillah, ketika bertemu pertama kali, aura dokter Mia yg cerdas, simple dan atentif sudah membuat saya relax. Alhamdulillah lagi, dari proses suntik, cabut gigi sampai penjahitan dilakukan tanpa ada rasa sakit sama sekali. Dokter bekerja dengan cepat dan tenang sampai saya tidak mengira ketika dokter mengatakan “Sudah selesai, mbak Sandhi”
Last but not least, alhamdulillah setelahnyapun saya baik- baik saja, bahkan tanpa memerlukan pain killer sekalipun. This is so great.

Bravo Drg Mia! Bonusnya lagi, keesokan harinya ternyata saya masih difollow up oleh beliau untuk menanyakan kondisi saya pasca cabut gigi. How attentive…. Makasih drg. Mia

Sandhi Bilal, Jakarta

Dulu saya paling takut yang namanya ke dokter gigi.. Jadi selama gigi nggak sakit, walaupun mahkota giginya sudah hancur semua, tetep aja nggak mau ke dokter gigi… Tapi karena banyak dengar orang bilang kalau gigi rusak akan banyak menimbulkan penyakit jadinya saya takut juga. Akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter gigi yang direkomendasikan oleh salah satu teman saya… Ternyata sekarang ketakutan berubah menjadi ketagihan hehe… Karena selain perawatannya juga nggak sesakit yang dibayangkan, dokternya pun baik, ramah, dan nggak sombong…

Sekarang, saya jadi rutin memeriksakan kondisi gigi saya setiap tahun dan senaaangg banget rasanya punya gigi dan gusi yang sehat.

Wiwin Veriwin, Jakarta

Saat anak saya, Albee (7th), pertama kali ke drg. Mia, Albee begitu takut. Sepanjang perjalanan dari rumah, Albee tampak gelisah dan melulu bertanya : Nanti giginya mau diapakan? Sakit gak? Ditambal pakai apa?…. begitu seterusnya. Sempat pula ia tidak mau dilakukan tindakan apapun. Dengan pendekatan khusus oleh drg. Mia, Albee akhirnya berhasil ditambal pada kunjungan pertama tersebut. Saat pulang dari kunjungan pertama tersebut, Albee malahan dengan bangga memperlihatkan giginya pada setiap orang yang ia temui dirumah.

Beberapa bulan kemudian, Albee harus dicabut dua gigi susu rahang bawahnya karena gigi tetap pengganti sudah tumbuh. Yang menjadi kekuatiran saya adalah gigi susu tersebut belum goyang. Albee sempat kembali merasa gelisah karena ini pengalaman pertamanya mencabut gigi. Drg. Mia menjelaskan kepada Albee bahwa pengalaman pertama ini haruslah menyenangkan untuk Albee, karena ini merupakan saat dimana Albee mendapat gigi tetap yang baik sebagai tanda Albee bertumbuh besar dan kuat. Drg. Mia sepertinya dapat memahami apa yang menjadi sumber ketakutan Albee dan bisa mendapat solusi untuk memecah ketakutan tersebut. Akhirnya Albee pun berhasil mencabut dua gigi susunya tersebut.

Beberapa minggu kemudian, Albee malah harus mencabut 4 gigi susunya dengan kasus yang mirip dengan pencabutan 2 gigi sebelumnya. Namun herannya, Albee dapat dengan tenang pergi ke drg. Mia. Bahkan Albee bisa meyakinkan saya : “Albee berani kok, Ma…”

Eva Devi, Jakarta

Offline