Belief dan value yang diperkuat dengan emosi intens adalah program yang bekerja di pikiran bawah sadar. Pilihan hidup, cara berpikir, sikap, persepsi, perilaku, prestasi hidup, dan kondisi kesehatan kita ditentukan oleh belief, value, dan emosi.

– Adi W. Gunawan

 

Ceria (bukan nama sebenarnya), wanita muda enerjik berusia 30-an tahun, masuk ke ruang praktik saya. Seperti biasanya, Ceria menyapa dengan hangat setiap kali datang memeriksakan giginya secara berkala. Di kedatangannya kali ini, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dilihat dari jauh saja, sudah tahu apa yang berbeda dari wajahnya. Ya, giginya sudah terlihat sudah menjalani proses veneer.

 

Veneer gigi merupakan prosedur kecantikan dari kedokteran gigi untuk membantu meningkatkan warna, bentuk, dan posisi gigi serta memperbaiki gigi yang gompal. Biasanya terbuat dari lapisan tipis porselen yang dipasang untuk menutupi permukaan depan gigi. Veneer gigi dapat bertahan hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya rusak atau terkelupas dan perlu diganti.

 

Namun ada aneh dari hasil veneer gigi Ceria ini. Terlihat ada yang belang. Ceria pun mengeluhkan gusinya yang semakin sering berdarah sejak gigi-giginya di-veneer tiga minggu lalu. Sekilas tidak tampak perubahan signifikan pada gusi Ceria. Lebih tepatnya, belum tampak perubahan signifikan pada gigi geligi Ceria, kecuali beberapa veneer yang katanya mendadak gompal begitu saja.

 

Gusi yang sehat tidaklah mudah berdarah saat disikat atau saat dilakukan pembersihan sela-sela gigi menggunakan benang gigi. Maka jika Ceria mengeluhkan gusinya sering berdarah sejak gigi-giginya di-veneer, boleh jadi ada sesuatu dengan veneer giginya tersebut. Veneer gigi yang baik seharusnya tidak menimbulkan keluhan.

 

chun.jpg.002

 

Ketika dilakukan anamnesa alias wawancara mendalam dan pemeriksaan klinis terhadap veneer giginya, akhirnya bisa diketahui apa yang menjadi penyebab gusi berdarah yang dialami Ceria.

 

Tiga minggu lalu, Ceria mendatangi seorang ‘dokter gigi’ atas ajakan temannya. ‘Dokter gigi’ ini disebut temannya sebagai seorang ‘dokter gigi’ berpengalaman dan aktif praktik di Jakarta dan kota besar lainnya. Dengan biaya veneer sangat miring, Ceria pun membuat janji dengan sang ‘dokter gigi’ ini.

 

Yang lebih mengherankan, tindakan veneer gigi dilakukan di kamar hotel, bukan di ruang praktik dokter gigi pada umumnya. Namun hal itu belum mampu mengubah keputusannya. Ditambah lagi, proses veneer dilakukan dalam posisi tiduran di ranjang hotel. Sang ‘dokter gigi’ ini pun sempat mengakui bahwa dirinya bukanlah dokter gigi, melainkan ahli estetika dengan sertifikasi dari Korea. Lagi-lagi, Ceria tetap manut saja, menjalani veneer gigi tersebut.

 

Ceria baru menyadari keputusannya itu kurang tepat sesaat setelah veneer-nya selesai dikerjakan. Dirinya merasa tidak nyaman saat gigi-giginya berkontak, apalagi saat makan. Selain itu, juga mengaku sulit membersihkan sela-sela giginya dengan benang gigi seperti biasanya. Ternyata, veneer giginya tersambung semua antara gigi satu dan lainnya.

 

Lalu, kenapa Ceria tidak curiga dari sebelumnya? Kenapa Ceria bersedia membuat janji tindakan di kamar hotel, tanpa dukungan kursi gigi dan alat-alat kedokteran gigi memadai? Apa hanya karena tergiur dengan biaya super miring?

 

Sejenak, mari memahami cara kerja pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Fungsi utama pikiran sadar adalah menerima segala informasi melalui berbagai pancaindera, baik penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan, dan perabaan. Selanjutnya berpikir, membandingkan informasi yang masuk dengan ‘database’ seperti referensi, pengalaman, dan segala informasi yang berada di level bawah sadar. Setelah itu menganalisa dan membuat keputusan.

Sementara fungsi pikiran bawah sadar sebagai gudang penyimpanan informasi, menyimpan hal-hal seperti kebiasaan baik, buruk, maupun refleks, emosi, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi, belief, dan value.

Tahukah bahwa pikiran sadar memberikan pengaruh terhadap tindakan dan perilaku seseorang sebanyak 1 sampai 5 persen. Sementara pikiran bawah sadar memberikan pengaruh hingga 95-99 persen. Artinya, pikiran bawah sadar lebih kuat memengaruhi tindakan seseorang.

 

Dari kasus di atas, ada 3 hal penting yang mempengaruhi pikiran bawah sadar Ceria.

Pertama, belief alias keyakinan atau kepercayaan mengenai veneer gigi. Ceria yakin dan percayai veneer gigi pasti memperindah penampilannya. Jika giginya indah, dan penampilan oke, tentu akan mendongkrak rasa kepercayaan dirinya. Inilah yang memotivasi Ceria melakukan veneer.

 

Kedua, value atau nilai penting dari veneer gigi. Pikiran bawah sadar Ceria memiliki value penting yakni penampilannya akan semakin cantik dengan susunan gigi geligi rapi dan putih setelah dilakukannya veneer gigi. Value lain adalah biaya super miring yang tentu sangat menggiurkan.

 

Ketiga, emosi positif Ceria terhadap veneer gigi. Sejak awal Ceria sudah terlebih dahulu membayangkan hasil akhir veneer gigi akan rapi, indah, putih dan mendukung penampilannya. Bayangan tersebut berdampak pada emosi positif Ceria, sehingga wanita ini semakin bersemangat memasang veneer gigi secepat mungkin. Padahal, sebelum veneer gigi dilakukan, perlu dilakukan pembuatan maket (mock-up) pada gigi Ceria. Melalui maket ini, dokter gigi akan memberikan gambaran hasil akhir veneer gigi yang akan diterima pasien. Proses inilah yang tidak sempat dilakukan Ceria sebelumnya.

 

Nah, ketiga hal di atas menjadi program yang bekerja dengan sangat baik di pikiran bawah sadar Ceria, sehingga ajakan temannya dengan mudah menembus faktor kritis pikiran sadarnya. Akibatnya Ceria lupa menyaring informasi dan fakta janggal yang masuk ke pikirannya. Itulah mengapa, Cerita tetap bersedia melakukan veneer gigi meski tidak dilakukan oleh seorang dokter gigi.

 

Veneer gigi yang baik memang membutuhkan upaya, waktu dan sejumlah biaya tertentu. Veneer gigi yang baik pastinya membawa keuntungan bagi penggunanya. Senyum sehat dengan susunan gigi-geligi tertata baik dan indah tentu menunjang penampilan. Selanjutnya, penampilan yang indah akan berpengaruh positif ke dalam konsep diri, kepercayaan diri, bahkan kehidupan personal, sosial, dan profesional seseorang.

 

Belajar dari pengalaman Ceria, berikut tips singkat yang patut menjadi rujukan sebelum mengambil keputusan melakukan veneer gigi:

 

  1. Teliti sebelum bertindak.

Gali informasi sebanyak-banyaknya mengenai tindakan veneer gigi yang ingin ditempuh. Upayakan mendapat informasi dari sumber yang dapat dipercaya. Carilah pendapat profesional yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Yang perlu dipahami, tanggungjawab utama kesehatan rongga mulut Anda adalah terletak pada diri sendiri, bukan pada orang lain ataupun dokter gigi. Karenanya ambil keputusan tepat dan teliti bagi diri sendiri.

 

  1. Utamakan kualitas.

Jangan mudah tergoda dengan tawaran biaya super miring. Perlu diketahui, risiko dari veneer yang tidak baik adalah gigi berlubang, peradangan gusi, hingga kerusakan tulang penyangga gigi. Bisa-bisa yang awalnya hanya berniat veneer gigi, yang terjadi malah kehilangan gigi-gigi Anda. Pastikan memilih tenaga profesional berpengalaman untuk melakukan veneer pada gigi Anda. Veneer dengan kualitas baik akan menyelamatkan diri dari masalah gigi yang tidak diperlukan, serta menghemat banyak waktu, tenaga dan biaya.

 

  1. Tentukan tujuan.

Sebelum melakukan veneer, tanyakan pada diri sendiri,  apa tujuan utama melakukan veneer gigi? Jawablah dengan jujur. Jangan sampai melakukan veneer gigi hanya karena ikut-ikutan teman, atau jadi korban trend masa kini. Tentu sah-sah saja jika seseorang ingin tampil lebih cantik atau ganteng dengan cara sendiri. Namun, bukankah tidak semua gigi memerlukan veneer? Maka, konsultasikan hal ini kepada dokter gigi sebelum mengambil keputusan.

 

Ingat, Anda adalah pribadi yang berharga, istimewa dan bijaksana. Maka, buatlah keputusan tepat dan terbaik bagi kesehatan diri sendiri.

 

Salam sehat dan sejahtera.

 

Drg. Mia Gracia CCH

Dentist

Certified Clinical Hypnotherapist of Adi W. Gunawan Institut of Mind Technology

Author of the book “Hypnosis in Dentistry”

Offline