Jauh sebelum tahun 1900, tindakan preventif atau pencegahan penyakit gigi dan mulut sangat jarang dilakukan. Yang paling sering terjadi adalah perawatan gigi-gigi yang terinfeksi, yang telah masuk tahap ‘butuh penanganan darurat’. Pada masa tersebut, di mana belum ditemukan antibiotik dan anestesi, orang terbiasa menunda kunjungan mereka ke dokter gigi, karena segala hal mengenai pengobatan atau penanganan tindakan atas segala permasalahan gigi pada masa itu pasti terasa sakit tanpa adanya bantuan obat-obatan dan anestesi.

Hal yang sangat umum terjadi pada masa tersebut adalah gigi dengan abses (nanah), yang disertai dengan salah satu atau beberapa simtom : rasa sakit yang tak tertahankan, bengkak, demam, infeksi ringan sampai berat, bau mulut, kondisi umum pasien yang lemah, tidak dapat tidur berhari-hari, kesulitan makan, sulit berkonsentrasi, dan sebagainya. Tak jarang pula sakit gigi membuat emosi seseorang menjadi sulit terkendali. Saat sakitnya tak tertahankan tersebut, barulah seseorang datang ke dokter gigi. Dan mereka datang dengan kondisi gigi terinfeksi yang sangat buruk sehingga harus dilakukan pencabutan secara paksa. Saat pencabutan paksa tersebut, tak jarang pula terjadi patahan pada gigi maupun tulang, lalu diikuti oleh kematian beberapa hari kemudian sebagai akibat dari meluasnya infeksi tersebut.

Menurut survei pada tahun 1623 di London, Inggris, diperoleh data bahwa infeksi gigi merupakan penyebab kematian kelima pada masa tersebut. Mungkin hal ini yang menyebabkan para dokter gigi pada jaman tersebut tidak mempertimbangkan pentingnya faktor psikologis pasien terhadap perawatan gigi maupun efek psikis jangka panjang yang dialami pasien terhadap kesehatan gigi-geliginya. Satu-satunya yang diutamakan pada masa tersebut adalah bagaimana menyelamatkan nyawa seseorang dengan menghilangkan sumber utama infeksinya, yaitu mencabut paksa gigi yang terinfeksi tersebut.

 

The Tooth Drawer

 

Pada masa tersebut, sangat sedikit pengetahuan dan training mengenai kedokteran gigi. Tidak saja dokter umum, bahkan tabib, tukang pangkas rambut, dan pandai besi pun juga melakukan pencabutan gigi. Pengetahuan mengenai sanitasi alat-alat dan tindakan perawatan gigi, pencegahan penularan penyakit dari pasien yang satu ke dokter gigi lalu ke pasien lainnya, pengetahuan mengenai penyebaran infeksi dari gigi yang bermasalah, semuanya minim. Begitu pula alat-alat yang digunakan, selain tak banyak ragamnya, penampilan alat-alat tersebut seringkali menimbulkan rasa takut di pikiran orang-orang yang melihatnya.

Anestesi umum sendiri baru ditemukan pada tahun 1842 dan anestesi lokal digunakan pertama kali pada tahun 1884.

 

Drg. Mia Gracia CCH

Dentist

Certified Clinical Hypnotherapist of Adi W. Gunawan Institut of Mind Technology

Author of the book “Hypnosis in Dentistry”

Offline